Ads

Kotak Pencarian

Ads

Rabu, 01 Juni 2016

[Monthly Note] Euforia Bulan Puasa ketika Beranjak Dewasa

Bulan Puasa seringkali diidentikan dengan bulan perpindahan atau hijrah bagi kaum religius ataupun semi religius. Euforia Ramadhan hampir sama dengan siklus tahunan ketika bulan ini memberikan kesan yang berbeda tiap tahunnya, entah itu dari cara berpuasa pada umumnya dan juga melihat sisi spritualitas pribadi secara khusus. 


Ketika masih jadi bocah, gw senang sekali berpuasa walau hanya tahan sehari dan tahun berikutnya bisa berpuasa full walau mengharap imbalan seribu rupiah dari orang tua. Ketika remaja dan memasuki dunia pesantren, gue memahami konsep puasa sebenarnya dalam sisi keagamaan namun secara spiritualitas masih memandang ibadah layaknya sebuah casing yang menunjukkan ke Islaman kita. 

Sebelum catatan ini melantur lebih jauh, bagi gue bulan puasa selalu memberikan kesan tersendiri, meskipun sekarang ritual puasa sebenarnya tidak lagi terlalu berat karena bagi gue kurang lebih gak makan seharian yang sering gue lakukan di hari biasa namun spirit kebersamaan dengan melakukannya bersama keluarga adalah hal yang mungkin tidak dipunyai orang lain ketika sahur bareng dan buka bareng, kenapa begitu penting? Karena mungkin tahun depan gue buka puasa dengan gue yang menjadi kepala keluarga, who knows? 

Selain puasa, ritual tarawih dan tadarus juga dilakukan. Dalam keluarga gue, shalat tarawih hampir sama pentingnya dengan berpuasa dan dulu gue sempat ngira kalau tarawih itu wajib hukumnya dilakukan. Dalam beberapa tahun kebelakang, hampir tiap tahun gue ikut shalat tarawih kecuali pas tahun gue jalan jalan menjelajah Indonesia pas di bulan puasa. Ada juga tadarus bareng yang dilakukan setelah shalat shubuh dan menyelesaikan 2 juz dalam satu hari karena tradisi yang berlaku di masyarakat gue tinggal. 

Ketika bulan puasa tiba, hal yang menarik adalah tradisi tidur setengah hari yang dulu ketika gw kecil begadang dan menikmati jajan sepuasnya kemudian ikut bangunin orang sahur keliling kampung dipagi buta adalah kenangan tersendiri. Mungkin nanti gue akan tulis tentang gimana bulan puasa di akhir abad millennium.

2 komentar:

  1. Kita samaan, dlu kecil puasa demi mengharap uang seribu rupiah.. hahaha kocak juga. Tapi, alhamdulilah makin dewasa puasa udah nggak gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itulah bro.. eforia yang gak bakal kita temui lagi kecuali ntar punya anak yg dididik dengan cara yg sama.

      Hapus

Aturan memberi komentar:
1. Gunakan akun anda yang jelas supaya mudah di reply dengan meninggalkan e-mail atau link social media. Tidak disarankan menggunakan anon.
2. No spam, overload links, dan komentar yang tidak berhubungan.
3. Komentar anda akan di apresiasi jika anda memberikan tambahan dan saran, dan admin akan meletakkan di postingan.